Mengenang Tugas Akhir Desain
Enam tahun lamanya saya nongkrong di bangku Fakultas Seni Rupa dan Desain Trisakti, dari 1997 hingga 2003. Tetapi sebetulnya saya efektif kuliah selama 4 tahun karena selama empat semester 1997-1999 saya tidak aktif di kampus karena suatu hal.
Dari kecil memang sudah jadi cita-cita saya ingin menjadi seniman, ya seni visual, musik, bahkan seni teater. Tetapi pilihan akademik saya jatuh kepada desain komunikasi visual, karena ketertarikan kepada dunia periklanan. Dan ternyata, semua gemblengan di desain, pola pikir, kreatifitas, dll. terpakai semasa saya banting setir masuk ke musik.
Saya ingat, tugas akhir atau biasa dikenal sebagai T.A, adalah suatu masa yang sangat exciting. Semua yang kita pelajari dicurahkan di satu hal ini, yang akan disidang oleh para dosen.
Karena masa perkuliahan saya di Trisakti diwarnai juga oleh magang dan sekolah di Institut Musik Daya, akhirnya saya memilih tema promosi jazz festival. Ceritanya, jazz festival ini akan diselenggarakan di Bali, tepatnya di GWK. Judul festivalnya adalah Jazz For Humanity, atas saran dari pembimbing saya Mas Adikara.
Masa-masa paling seru adalah saat menentukan tema sentral untuk desain promosinya, dari puluhan keywords, diolah menjadi warna, bentuk, dan komposisi. Saya ingat betul, di suatu sore hari, saya konsentrasi keras mencari ide untuk poster, dan mentok designer block, alias blank. Apa yang saya lakukan? pasang CD Miles Davis “Kind Of Blue.” Hasilnya adalah poster yang bisa anda lihat di entry ini.
Ternyata erat sekali hubungannya antara ide visual dengan musik. Ilustrasi trumpet yang ada di dalam poster bagi saya adalah musik Miles Davis curahan jiwa yang keluar lewat nada-nada trumpetnya. Dari ide dasar ini, dikembangkan menjadi berbagai item promosi dari pin, kaos, topi, signage, hingga name tag panitia.
Berkat bantuan teman saya Shynta, akhirnya semua tugas dapat diselesaikan pada waktunya untuk sidang. Hebatnya, dosen penyidang saya adalah penggemar jazz berat Bpk. Yongki Safanayong, sekarang beliau adalah profesor di UPH Karawaci. Kritik paling keras beliau adalah bagaimana saya tidak memperhitungkan faktor ukuran pada poster. Saat itu poster saya hanya 50×70 cm, di mana menurut beliau kurang besar untuk aplikasi desainnya.
Alhamdulillah, berkat Miles Davis, ide kreatif saya mendapat B+.
I miss those days!
Desain dan musik, dua kata tersebut memiliki arti yang mendalam bagi saya. Di kalangan musisi tidak banyak yang tahu bahwa latar belakang pendidikan saya adalah desain komunikasi visual. Sebelum kuliah musik, saya terlebih dahulu kuliah desain di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti angkatan 1997. Semasa itu kuliah musik masih tidak dikenal oleh khalayak umum, karena profesi musisi bukanlah sesuatu yang prospektif di mata banyak orangtua. Sama halnya dengan orangtua saya semasa itu sangat tidak percaya dengan musik sebagai bekal masa depan. Saat ini, perkuliahan musik lebih dikenal di masyarakat, contoh saja Universitas Pelita Harapan, tempat saya menjadi dosen tidak tetap, mahasiswanya terus bertambah. Atau Institut Musik Indonesia, juga Institut Musik Daya Indonesia, keberadaan mereka semakin populer saat ini.
