Pertemuan dengan Herbie Hancock

Saya baru saja pulang dari sebuah acara yang ternyata sangat berkesan bagi saya. Yaitu diskusi musik bersama Herbie Hancock, di gedung BNI. Saya sendiri tidak begitu jelas mengenai keberadaan Herbie Hancock di Indonesia, yang saya tahu Herbie berada di Indonesia dalam rangka mewakili UNESCO, berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia antara lain ke beberapa situs bersejarah seperti candi Borobudur, Prambanan, serta melihat gunung Merapi. Dalam kunjungannya kali ini, BNI bersama Indra Lesmana sebagai host menyelenggarakan acara diskusi musik.

Dalam pertemuan ini, banyak hal yang sangat meninggalkan bekas di hati saya, sebagai musisi dan sebagai seorang manusia. Herbie begitu ramah menyapa kami semua dan menjawab berbagai pertanyaan dengan hangat. Saya sungguh menyesal tidak membawa alat perekam video ataupun audio untuk merekam kejadian ini. Namun saya akan tulis apa yang saya ingat mumpung masih segar dalam ingatan saya.

Indra Lesmana memulai diskusi dengan pertanyaan seputar industri musik. Ada beberapa poin yang saya catat. Antara lain Herbie mengatakan bahwa dia tidak pernah menggantungkan dirinya kepada industri musik, tetapi dia menggantungkan dirinya pada dirinya sendiri. Lalu dalam menjawab soal masa depan industri Herbie menjawab yang intinya kita sebagai musisi juga harus bisa menciptakan masa depan itu sendiri. Diskusi berlanjut dengan pembahasan seputar format rekaman fisik dan digital. Herbie mengatakan, bahwa hal itu tidak terlalu penting, sebab sejak teknologi rekaman belum ada, manusia sudah bermusik, dan melewati semua era teknik rekaman, musik bisa bertahan hidup dan akan selalu hidup.

Berlanjut mengenai pembajakan, Herbie mengutarakan bahwa di era internet ini, kebanyakan orang sudah terlalu terbiasa mengunduh musik secara gratis dan ilegal, hal itu sudah menjadi hal yang dianggap biasa, bahkan mereka tidak menyadari kerusakan apa yang mereka hasilkan dengan mengunduh ilegal seperti itu. Lalu Herbie merasa bahwa apa yang dilakukan Steve Jobs dengan iTunes itu sangat membantu, karena ia memberikan alternatif cara mengakses musik dengan harga yang terjangkau juga.

Kebetulan saya sendiri berkesempatan melontarkan pertanyaan kepada Herbie, saya bertanya dengan dua hal pertama tentang bagaimana musisi harus menggunakan internet, kedua saya bertanya tentang Miles Davis.

Herbie mengatakan betapa pentingnya musisi itu menggunakan teknologi, khususnya internet. Karena dengan internet itu musisi bisa mendapatkan audience. Ia menyebutkan Twitter dan Facebook sebagai media yang sangat patut digunakan dalam mempromosikan musik.

Yang menarik, adalah saat Herbie menjawab pertanyaan saya soal Miles Davis. Pertanyaan ini selalu ingin saya tanyakan kepada siapa saja yang pernah bersentuhan langsung dengan Miles. Herbie pun bercerita tentang Miles.

Herbie bilang, Miles adalah pribadi yang sangat lucu, tetapi sangat dalam. Seringkali saat Miles bercanda, candaannya tersebut baru bisa dimengerti lucunya setelah beberapa saat dan biasanya bercandaannya mengandung makna lebih dalam. Miles juga tidak banyak melakukan wawancara radio atau yang lainnya, ia lebih menyukai bermain musik di atas panggung. Miles sering mengatakan pada band member-nya bahwa Miles membayar mereka untuk bermain “in the moment” di atas panggung, bukan melulu berlatih di kamar hotelnya.

Herbie mengatakan, orang sering salah paham ketika melihat Miles membelakangi penonton saat di panggung. “Apakah anda ingin komplain jika melihat seorang dirijen membelakangi penonton?” tanya Herbie, “tentu tidak, karena dirijen tersebut sedang memimpin orkesnya. Itulah yang dilakukan Miles.” ia melanjutkan, “Miles sangat peduli dengan musik yang ia sajikan bagi penonton, setiap detil sound ia pikirkan, bahkan kadang ia meniup trumpet-nya ke lantai atau ke tembok untuk mendapat sound yang baru.” ungkapnya.

“Saya bermain dengan Miles ketika saya berumur 23 tahun” ungkap Herbie, “Tetapi saya bukan yang paling muda di dalam grup Miles, saat itu yang bermain drum adalah Tony Williams yang berumu 17 tahun.” Dalam bermain bersama Miles, Herbie mengatakan bahwa ia memperhatikan bahwa Miles selalu mendengarkan band mates-nya saat bermain. Apa yang dimainkan Miles di trumpetnya, adalah karena Miles mendengarkan pemain lain di dalam grup tsb. Itulah pelajaran pertama yang Herbie Hancock dapatkan dari Miles Davis, adalah untuk mendengar.

Lalu Herbie melanjutkan, pada suatu saat, ketika grup Miles sedang bermain, waktu itu lagunya “So What” lalu semua orang sedang panas, Wayne Shorter, Ron Carter, Tony Williams, semuanya sedang asyik, tiba-tiba secara tidak sengaja, Herbie memainkan akord yang salah dan terdengar sangat salah, lalu yang dilakukan Miles saat itu adalah bermain trumpetnya sesuai dengan akord yang salah tersebut sehingga apa yang dimainkan Herbie menjadi benar. Herbie sangat terkesan oleh pengalaman itu, “Miles mendengarnya bukan sebagai kesalahan, tetapi hanya sebagai ‘bunyi’ dan ia bermain dengan bunyi itu.”

Hebie lalu mengatakan, bahwa saat bermain musik, kita harus bisa mendukung pemain lain, dan kadang mendukung pemain lain adalah dengan diam. “The most important aspect in music, is silence, and people forget that.”

Herbie merasa bahwa semua pengalamannya secara musikal dengan Miles bukan hanya pengalaman musik, melainkan rangkaian pelajaran hidup. Mendengar, adalah pelajaran hidup, hidup “in the moment” juga adalah pelajaran hidup.

Hal berikutnya yang ditanyakan adalah mengenai mengikuti selera pasar vs idealisme, pertanyaan ini ditanyakan oleh penyanyi Calvin Jeremy. Herbie mengatakan bahwa yang terpenting adalah mengikuti kata hati. Jika kita berkarya dengan hati, akan lebih mudah karya tersebut untuk menyentuh hati audience. Tetapi, Herbie melanjutkan bahwa bukan berarti kita harus cuek dengan pasar, karena berkarya dengan hati bukan berarti tidak melihat pasar. Bahkan jangan lupa juga bahwa kita bisa menciptakan pasar kita sendiri.

Demikian sharing singkat saya tentang pertemuan dengan Herbie Hancock. Saya ucapkan terima kasih pada Indra Lesmana dan bank BNI untuk acara ini dan telah mengundang saya. Ditunggu acara serupa di masa depan!

This entry was posted in Jazz, Uncategorized. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

2 Comments

  1. Posted December 23, 2011 at 6:40 am | Permalink

    Waduh, notulensinya lebih detail dari saya yang nyatet Mas, saya ketemu momen waktu Herbie main dengan Miles dan Tony di http://youtu.be/SX4i9CieZYk tahun 1964 di Milan

  2. Posted November 30, 2013 at 10:20 am | Permalink

    pengalaman yang sangat berharga dan belum tentu orang lain bisa mendapatkannya

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Website Vokal Plus

  • Tweets

  • Advertisement

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.