Perjuangan Sang Penyanyi Solo

Setiap vokalis memiliki pandangan ideal akan bagaimana menjalankan karir musiknya. Dari semua pilihan karir seorang vokalis, baik itu menjadi pelatih vokal, vocal director, vokalis band, yang paling diminati adalah menjadi penyanyi solo (recording solo artist). Jalan untuk menjadi penyanyi solo tidak mudah, bahkan ketika kemampuan vokal seseorang sangat memumpuni, tidak menjamin ia bisa menjalankan karir sebagai penyanyi solo yang sukses. Berbeda dengan vokalis band yang segala sesuatunya dikerjakan secara bersama-sama dan mengandalkan teamwork.

Kasus #1: Joni si penyanyi.
Sebut saja Joni, seorang penyanyi yang sudah lama berkarir sebagai vokalis di band kafe. Ia bercita-cita menjadi penyanyi solo yang sukses. Vokal Joni cukup kuat, tetapi Joni tidak memiliki kemampuan menulis lagu, dan tidak bisa bermain instrumen untuk mengiringi diri sendiri. Harapan Joni menjadi penyanyi solo hanya satu, yaitu agar “ditemukan” oleh seorang produser, atau seorang A&R (artist & repertoire) perusahaan rekaman besar (mencakup manajemen artis) yang punya modal dan akan mengorbitkan dirinya. Konsekuensinya, Joni harus mau menjadi “produk” yang nasib musiknya disetir oleh si pengorbit. Ia akan “didandani” lalu musiknya diarahkan sedemikian rupa sesuai kebutuhan perusahaan.

Tidak ada yang salah dengan hal ini, malah enak, karena Joni tinggal menyanyi saja tanpa harus memikirkan urusan lagu, urusan pemain, promosi, dll hanya saja tidak semua penyanyi bisa berdamai dengan egonya dan mau dibentuk seperti itu. Dengan dukungan perusahaan besar tsb. urusan promosi yang biayanya paling tidak sedikit, akan beres karena perusahaan besar siap mengucurkan dana promo yang sangat besar, dari sekadar membuat videoklip, hingga membuatkan film untuk menaikkan artis. intinya semua sudah diatur oleh perusahaan.

Tetapi jangan salah, walau Joni dijadikan produk yang dibentuk perusahaan, tetapi perkembangannya di masa depan Joni bisa menjadikan hal ini sebagai batu loncatan saja, setelah Joni memiliki fan-base yang kuat dan mengumpulkan modal, Joni tentu bisa menjadi lebih independen dan bisa memulai karir baru sebagai produser.

Syarat utama: berpenampilan menarik, kemampuan vokal yang baik, siap berkompromi dalam musik.

Kasus #2: Karina si penyanyi ambisius dan penulis lagu.
Karina adalah penyanyi dan penulis lagu, tetapi tidak bisa bermain instrumen mengiringi dirinya sendiri. Sebagai seorang penulis, Karina memiliki bayangan yang jelas tentang bagaimana musik yang ia inginkan. Tidak sampai di situ, Karina bahkan tahu betul pencitraan yang bagaimana yang cocok untuk dirinya. Cara yang ditempuh Karina untuk menjadi penyanyi solo adalah meminta bantuan seorang teman untuk membuat demo untuk ia kirimkan di perusahaan rekaman (perusahaan besar mencakup manajemen artis). Jika diterima, kemungkinan besar perusahaan tersebut akan “memodifikasi” lagu-lagu dan pencitraan Karina agar lebih “menjual”. Sekarang tinggal Karina siap berkompromi atau tidak.

Jika tidak mau kompromi, Karina bisa memilih jalur Independent, walau pekerjaan rumahnya lebih banyak. Karina harus memikirkan modal rekaman, mencari pemain musik pengiring, dsb. Masalah terbesar dari penyanyi solo independent adalah, sebagai penyanyi solo Karina harus mengeluarkan biaya besar untuk musisi pengiring, tidak hanya untuk rekaman saja, tetapi untuk mengiringinya di masa promo (biasanya 6 bulan) yang seringkali tidak dibayar.

Misalnya Karina dapat jadwal wawancara dan tampil di radio dalam rangka promo, atau dapat tempat tampil di event-event besar yang biasanya dengan alasan promosi Karina harus rela dibayar minim bahkan tidak dibayar sama sekali. Katakanlah misalnya selama 6 bulan ada jadwal 30 kali manggung dengan biaya promo, berarti bisa-bisa Karina nombok untuk membayar musisi pengiring hingga 1-3 juta per show. Jadi untuk jalur independent ini, jika Karina ingin musiknya menyebar luas bahkan sampai keluar Jawa, berdo’a saja Karina punya modal besar apalagi musiknya segmented.

Kasus #3: Terry si penyanyi, penulis lagu, dan pemain gitar.
Dalam hal ini, posisi Terry cukup strategis. Kemampuan Terry menulis dan mengiringi diri sendiri memungkinkan dia untuk menjadi penyanyi yang tidak bergantung kepada perusahaan besar dan musisi pengiring. Terry bisa saja rekaman sebagai penyanyi solo dengan biaya minim, karena dia mengiringi diri sendiri dan lagu-lagunya dia tulis sendiri. Setelah rekaman dirilis dan memasuki masa promosi, Terry tidak perlu repot-repot mencari musisi yang mau mengiringi dirinya dengan bayaran minim, tinggal bawa gitar, beres. Tinggal bagaimana Terry membentuk tim untuk mengurus manajemen dan produksi.

Kerja keras
Dari contoh kasus di atas, kita bisa melihat bahwa sebetulnya ada beberapa skenario di mana seseorang bisa menjalankan karir musiknya sebagai penyanyi solo. Tetapi skenario manapun yang ia jalani, perjuangan penyanyi solo tidak mudah, ia harus memiliki kemampuan yang sangat baik dalam vokalnya dan harus mau bekerja keras. Karena seorang penyanyi solo harus komit dengan profesinya itu, mengapa? karena produksi rekaman hingga rilis bukan berarti perjuangannya selesai, melainkan baru dimulai, perjuangan promosi dan menjual CD yang jadwalnya kadang tanpa ampun. Karena jika tidak, karirnya dipastikan akan tenggelam.

This entry was posted in Tulisan, Vokal and tagged , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

3 Comments

  1. Posted July 16, 2010 at 7:30 pm | Permalink

    kalau ingin sukses emang harus bekerja keras..

  2. kiki
    Posted October 23, 2011 at 2:16 am | Permalink

    Hy gan , mo numpang info donk , yg tau studio rekaman yg ajip tapi biayanya relatif murah dimana ya pliss coment ya di : 085777285894

  3. Posted March 19, 2013 at 11:55 pm | Permalink

    Thanks kak

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Website Vokal Plus

  • Tweets

  • Advertisement

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.