Home > Tulisan, Vokal > Vokalis Dan Transposisi

Vokalis Dan Transposisi

October 15th, 2009 Leave a comment Go to comments

Di salah satu kampus saya mengajar terdapat satu program mingguan yang dinamakan Live Band Workshop (LBW), di mana para mahasiswa dilatih untuk mempelajari lalu memainkan secara live sebuah lagu dari CD, atau biasa kita kenal dengan istilah ‘ngulik’ lagu. Program ini telah berjalan dari dulu sudah cukup lama, namun bedanya, semester ini mereka bertambah satu instrumen lagi, yaitu vokal.

Pada suatu siang, saya mendengar murid vokal saya yang masih baru sekali dan belum berpengalaman nge-band sebelumnya berlatih lagu dari program LBW tersebut dengan seorang pemain gitar, tetapi ada yang aneh saat itu, kok anak ini menyanyinya kesulitan sekali tidak biasanya. Rupanya lagunya terlalu tinggi range vokalnya. Lalu saya bilang kepada gitarisnya untuk turun whole step. Voila! murid saya itu langsung bisa bernyanyi dengan gemilang. Lalu saya tanya kenapa tidak dari awal saja kuncinya diturunkan? jawabannya mengagetkan saya, dia bilang anak-anak yang lain tidak mau, weleh, bagaimana ini.

Setiap penyanyi memiliki range-nya masing-masing, secara umum ada soprano, alto, tenor dan bass. Bahkan di antara range tersebut masih ada lagi mezzo-soprano dan baritone, plus range soprano professional dan bass profesional yang berbeda sedikit. Untuk meminta seorang bass menyanyikan lagu untuk tenor tidak akan menghasilkan performa yang baik, melainkan akan terdengar maksa. Begitu juga meminta seorang soprano menyanyikan part alto. Selain itu salah satu kesalahfahaman yang banyak terjadi adalah jika sebuah kunci lagu terlalu tinggi, maka artinya dia belum cukup berlatih, wah wah, padahal tidak ada hubungannya antara berlatih dan berubah rangenya, seorang bass akan tetap menjadi seorang bass. Namun tentu saja ada beberapa orang yang memiliki bakat lebih dengan range vokal yang luar biasa, namun jarang.

Dalam dunia musik profesional musisi akan selalu bertemu dengan transposisi (merubah key lagu) misalnya memainkan lagu “Cinta” Vina Panduwinata tetapi untuk dinyanyikan seorang laki-laki baritone, mau tidak mau key-nya harus dirubah karena jelas-jelas range vokal pria dan wanita berbeda, biasanya mulai coba key lain berjarak 4th. Atau misalnya seorang pianist mengiringi penyanyi wanita, memainkan lagu standard jazz dari sebuah realbook terkadang yang tertulis di realbook key-nya di Eb tetapi ia harus bisa merubah seketika bermain di Ab misalnya. Ada beberapa key yang dianggap tabu khususnya bagi pianis dan alat tiup karena tidak enak misalnya F#, E, atau B, jika key yang nyaman bagi penyanyinya di situ, bolehlah nego sedikit untuk pindah ke F, Eb, atau Bb. Selalu ada solusi untuk kenyamanan penyanyi dengan musisi.

Salah satu cara melatih musisi untuk bisa melakukan transposisi secara spontan adalah melatih cara berpikir melihat kord lagu secara keseluruhan sebagai progresi kord dengan fungsi harmonisnya. Misalnya, susunan kord CMaj7, D-7, dan G7, dilihat sebagai Imaj7, II-7, dan V7. Sehingga bermain di key apapun tetap saja mudah. Misal berubah ke key G, jadinya GMaj7, A-7, dan D7 berdasarkan progresi fungsi harmonis I-II-V.

Kesimpulannya, untuk menghasilkan performa musik yang maksimal dibutuhkan kerja sama yang baik antara setiap anggota grup. Lakukanlah apa yang masuk akal, jika lagunya ketinggian, turunkan, jika terlalu cepat, pelankan temponya, dsb. Jangan biarkan ego satu orang merusak penampilan satu grup.

Categories: Tulisan, Vokal
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.