Session Player

Dari beberapa spesies musisi, jalur pekerjaan saya paling banyak bersentuhan dengan yang biasa dikenal sebagai session player atau sessionist. Siapa mereka? Bisa dibilang mereka adalah musisi “siap pakai” untuk berbagai keperluan, dalam pengertian positif tentunya. Biasanya para sessionist ini tidak terikat dalam satu band, dan bisa ditemukan di beberapa project baik rekaman maupun live. Banyak nama yang bisa saya sebut untuk dijadikan contoh nyata, tapi kali ini saya gunakan nama fiktif saja untuk contoh umum. Sebut saja Joni, ia bermain drum untuk rekaman seorang penyanyi pop, juga beberapa kali bermain dalam live show-nya, selain itu iya kerap bermain untuk orkestra pop seorang komposer terkenal, dan juga kadang bermain untuk acara launching produk dan event lainnya. Maka Joni bisa dibilang seorang sessionist.

Dalam obrolan saya dengan Edi Syakroni (drummer) ia mengatakan salah satu keuntungan seorang sessionist adalah mereka tidak bergantung pada satu band atau project untuk mendapat pekerjaan. Contoh kasus misalnya Gino, pemain bass grup Kertas. Saat band itu masih sering muncul di TV ia akan aman job, tetapi Gino hanya bisa bermain bass untuk lagu-lagu band Kertas saja dan tidak fasih membaca musik dan tidak berpengalaman bermain di situasi yang berbeda-beda sehingga ia tidak pernah diajak bermain dalam project lain. Akibatnya saat band Kertas mulai surut, ia kesulitan untuk move on.

Setiap jalur karir yang musisi pilih tentu memiliki sisi baik dan buruk, begitu juga menjadi sessionist. Selain keuntungan di atas, mereka juga punya kelemahan. Ada banyak sessionist yang tidak membuahkan karya orisinil karena terlalu asik berkecimpung di dunia session player bermain untuk orang lain.

Bagaimana cara menjadi sessionist?

Pertama, bisa baca musik secara fasih. Hampir semua pekerjaan sessionist menuntut skill ini. Baik dalam rekaman, maupun live, bahkan penyanyi sekalipun. Saya ingat beberapa kali bermain saxophone untuk band Sore, backing vocal semua membaca parts.

Kedua, punya banyak kenalan. Pertanyaan yang muncul di benak komposer atau arranger ketika menyusun pemain contohnya adalah “yang main gitar siapa ya?” Nah, dengan jaringan yang luas nama sessionist akan muncul di jejeran pemain gitar, tinggal dipilih berdasarkan style.

Ketiga, punya reputasi terjaga. Biasanya project musik yang menggunakan sessionist tidak memiliki waktu banyak untuk latihan berulang-ulang, sehingga ketepatan waktu dan profesionalisme menjadi modal utama bagi sessionist.

Keempat, idealisme yang terarah. Sebagai sessionist profesional seorang musisi harus mendahulukan musik secara grup. Jadi seorang gitaris harus bisa mensetting efeknya untuk keperluan yang ada, misalnya. Bukan setting heavy metal untuk aransemen yang jazzy.

Kelima, fleksibilitas. Sessionist harus mampu bekerja dengan berbagai orang yang berbeda dengan gaya musik yang berbeda-beda pula. Misalnya, siang hari rekaman live dengan musik R&B, malamnya bermain di orkestra.

Saya sendiri merasa beruntung bisa berada di dunia session, baik sebagai saxophone player maupun sebagai penyanyi, di mana saya banyak sekali belajar dan berkenalan dengan banyak musisi. Saya rasa di situlah letak keindahan dunia session.

Sekian dulu tulisan kali ini, hope you enjoy reading as much as I’m writing it!

This entry was posted in Jazz, Tulisan and tagged , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

5 Comments

  1. Posted October 23, 2009 at 3:08 pm | Permalink

    saya sebagai gitaris dulu sempat kepikiran untuk menjadi the next Tohpati. satu2nya sessionist yg diperhatikan saya. kayanya seru bisa main allround

    tapi apa daya, tangan ini bisanya hanya main blues/rock ketimbang jazz. dan masih susah baca not gara2 sibuk kerjaan. hehe

    lagi2 tulisan yg sangat menginspirasi.

    kalau ada waktu ingin mengobrol langsung dengan seorang Indra Aziz. :)

  2. Posted October 24, 2009 at 9:54 pm | Permalink

    thanks bro atas komennya!

  3. Posted July 28, 2010 at 9:58 pm | Permalink

    Kalau boleh menambahkan menurut saya session player jg sebaiknya punya karakter. Contoh kasus dr mancanegara, musisi sekaliber flea atau slash masih sering diajak menjadi pemain tamu di beberapa karya musisi lain karena karakter permainan mereka. Jadi di luar band mereka sendiri, mereka masih bs berkarya/berkolaborasi dengan musisi lain tanpa meninggalkan karakter personal mereka.

  4. Posted July 28, 2010 at 10:38 pm | Permalink

    Mantap, betul banget, trims

  5. ilyas
    Posted November 18, 2010 at 8:49 pm | Permalink

    thx kak bwt artikelny.
    Apakah ada channel khusus untuk orang yg mau jadi sessionist? Maksudny biar scara list, dia ada disitu. Ada g t4 bwt ngajuin demo dan bio ke suatu t4 gt. Sy bermain gtr all round, namun tdk blm pny kmampuan baca parts. Apakah mungkin msh bs jadi sessionist? Msl untuk band2 , bkn ke orkestra. Makasih sblmny.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Website Vokal Plus

  • Tweets

  • Advertisement

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.