Home > Tulisan > Musisi Otodidak

Musisi Otodidak

September 2nd, 2009 Leave a comment Go to comments

768095_studyBeberapa tahun lalu saya pernah terlibat dalam debat yang berkepanjangan tentang perlu atau tidaknya seorang musisi melewati pendidikan musik formal atau tidak. Bahkan tidak hanya itu, kata “musisi” sebagai sandangan seseorang yang berprofesi sebagai pemain musik juga tidak luput dari perdebat tersebut. Seseorang bisa saja otodidak dan sukses sebagai musisi yang disegani, bahkan ada komposer musik untuk orkestra yang otodidak walau menggunakan bantuan dari seorang orkestrator. Di sisi lain, ada juga musisi yang bergelar sarjana musik tetapi akhirnya membuka usaha restoran karena karirnya di bidang musik kandas.

Banyak faktor yang menentukan seorang musisi bisa sukses atau tidak, bahkan definisi sukses bagi musisi bisa saja berbeda-beda, yang satu ukurannya uang, yang satu lagi ukurannya kebebasan berekspresi walau harus hidup sederhana. Apapun arti kesuksesan itu, saya percaya hal itu bisa diraih dengan jalan otodidak dan jalan pendidikan formal.

Otodidak adalah menurut wikipedia bahasa Inggris adalah “self-education or self-directed learning. An autodidact is a mostly self-taught person, as opposed to learning in a school setting or from a tutor.” Jadi otodidak bukan berarti tiba-tiba bisa sendiri tanpa belajar, melainkan belajar sendiri dan menentukan jalur pelajaran itu sendiri tanpa bantuan tutor dalam jangka waktu tertentu. Seorang musisi otodidak akan menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku, menonton video tutorial, berlatih, dan berdiskusi dengan musisi lain untuk mendapat masukan dan inspirasi.

Musisi jazz senior kita, pianis Idang Rasjidi pernah memberi analogi seperti ini, jika seorang musisi yang belajar formal mencapai tujuannya di seberang lautan menggunakan pesawat terbang sedangkan musisi otodidak harus berenang dan bersusah payah mencapai tujuan tersebut. Artinya, di musisi yang belajar secara formal akan mendapat berbagai kemudahan dalam mencapai level tertentu, karena mendapat bimbingan pelajaran serta fasilitas yang memadai. Saya tidak mencoba mencari-cari mana yang hasilnya lebih bagus, tetapi yang pasti, jika memang ada kesempatan untuk belajar mengapa tidak? Toh hal ini memudahkan proses belajar. Hanya saja tidak semua orang bisa melakukannya, baik halangan biaya, waktu, dsb.

Jangan lupa juga, banyak musisi besar yang tidak melewati proses pendidikan formal, apalagi musisi jazz, perkuliahan musik jazz saja di Eropa baru ada sejak tahun 1970-an. Tradisi pembelajaran yang ada di kehidupan musisi jazz sebelum itu adalah untuk bekerja di dalam band yang dipimpin musisi handal selama beberapa tahun untuk menyerap ilmu dari pengalaman tersebut. Chet Baker belajar sendiri, Miles Davis keluar dari Juilliard namun terus belajar dari pengalaman.

Salah satu hal yang saya rasa adalah kelebihan utama seorang otodidak adalah biasanya orang otodidak itu punya kemauan super keras. Berbeda dengan mahasiswa musik yang ditunjukkan arah dan diberi fasilitas, otodidak harus mencari-cari jalan sendiri, tanya sana-sini hingga akhirnya sampai pada tujuan. Inilah mengapa kadang-kadang musisi otodidak memiliki greget yang tidak dimiliki musisi pendidikan formal.

Ketika kita berbicara soal musik yang “rumit” seperti orkestra, atau big band dengan menulis aransemen untuk belasan bahkan puluhan alat musik, apakah bisa dengan cara otodidak? Jawaban saya, mengapa tidak? Apalagi di era informasi seperti sekarang ini, jika ada kemauan dan kerja super keras, pasti bisa. Bahkan saya memiliki beberapa rekan yang telah melakukannya. Sekali lagi, otodidak bukan berarti tidak belajar, malah justru belajarnya lebih giat lagi.

Categories: Tulisan
  1. September 6th, 2009 at 22:27 | #1

    Gue setuju sekali tulisan ini, Aziz! Gue belajar formal di UPH, tapi setelah bermain bersama Rhesa, gue malah jadi dapet banyak pelajaran baru. Kadang gue merasa dia lebih berani untuk trial error/ eksperimen.. lebih nggak takut salah daripada gue. karena dia otodidak dan sering juga melakukan kesalahan dan getol untuk cari jalan supaya dia memperbaiki kesalahannya. Tapi proses itu ternyata mengembangkan sisi permainannya yang lain.
    Sedangkan gue sudah tahu itu berkat bimbingan dari sekolah gue..
    prosesnya berbeda, tapi tujuannya sama…
    Dan kembali lagi pada mental bermusiknya. Musik butuh latihan, pengalaman, keberanian, risiko, dan inovasi. Musisi-musisi besar nggak hanya bagus dalam skill, tapi juga inovasi dan kreasinya.
    Dan menurut gue, akhirnya semua kembali pada individunya masing-masing. Sejauh mana kita bisa memaksimalkan apa yang ada pada diri kita… baik fasilitas maupun ilmu kita.. dan sejauh mana kita mau terus belajar dan berkembang… :)

  2. nikita dompas
    October 23rd, 2010 at 12:03 | #2

    Setuju sekali dengan aziz + oom idang

    Intinya kalau punya hati mau yang mau belajar..mau belajar di universitas kek mau dijalanan kek,
    hasilnya akan tetep bagus.

    Kalau yg terjadi sebaliknya..mau sekolah di Universitas ternama, tp sikap hatinya ga mau belajar..podo wae.

  3. Yusuf Shandy Satya
    October 23rd, 2010 at 12:57 | #3

    Sangat setuju. Intinya ya balik ke orangnya mau usaha atau nggak. Toh di dunia profesional orang ga peduli kita terdidik formal atau otodidak.

  4. Barry Likumahuwa
    October 23rd, 2010 at 17:36 | #4

    Betul sekali, sebagai musisi putus sekolah, gw merasakan hal yg sama.. semua tergantung ke pribadinya, selama kita punya kemauan keras, dan keinginan utk maju, kt pasti bs mencapai tujuan kita itu, apalagi jika semua itu tulus dan murni for the sake of the music itself, bukan mencari2 puji2an yg sia sia, dan prosesnya itu yg mahal. Sebaliknya, tanpa kemauan keras, sekolah sampai di surga sekalipun, blm tentu bisa maju :)

  5. bima kusuma
    November 13th, 2010 at 11:08 | #5

    betul,banget oom…..
    saya setuju, dulu saya sempet beljar vocal juga, tapi sekarang dh ngga….
    jadi sekarang ngembangin sendiri aja, tapi kadang saya suka bertanya” apa saya bisa jadi seorang penyanyi hebat nantinya, dengan keadaan saya sekarang??????

  6. bantenz skid
    February 20th, 2011 at 21:01 | #6

    mas, saya mau reblog bole ga ? nanti tetep saya tulis di bawahnya “by Indra Aziz”

  7. naufal
    November 25th, 2011 at 09:50 | #7

    Ya benar sekali,sama halnya seperti homeschooling.mereka akan mencari metode belajar yang paling cocok dan nyaman tapi tentu dengan tanpa paksaan makanya mereka lebih giat :)

  8. November 26th, 2011 at 07:32 | #8

    Like this post!!
    apalagi sebagai seorang yang otodidak, gw setuju bgt. ;)

  9. wahid sabillah
    February 21st, 2012 at 19:30 | #9

    om indra aziz thanks banget buat postingannya karna udah buat saya semangat lagi buat belajar belajar dan terus belajar di bidang musik, saya lagi galau pengen lanjut les musik tapi biaya nya mentok. apalagi ditambah komennya om barry yang katanya putus sekolah musik tapi betotan bass nya ruar angkasa keren nya. Terimakasih buat motivasi nya :D

  1. February 24th, 2011 at 13:56 | #1
  2. August 15th, 2011 at 19:00 | #2

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.