Milik Kita? Yakin…?

Tahun 2009 segera tiba, umur bertambah (atau berkurang!), tutup buku, dan saatnya bercermin dan melihat refleksi diri.
Kemarin pagi saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, mobil saya dicongkel orang dan tas gig kesayangan saya hilang digondol pencuri. Kejadian bermula saat ban mobil saya kempes di ciputat di tengah perjalanan saya menuju sebuah studio di bilangan sudirman untuk sebuah proyek, saat itu waktu menunjukkan jam 9 pagi. Seseorang dengan sepeda motor melambaikan tangannya ke arah saya sambil berkata “ban kempes!” saya yang sedang terburu-buru langsung panik karena ini jelas saat yang tidak tepat untuk mengalami gangguan semacam ini di jalan. Saya langsung mencari tempat untuk berhenti, dan sampailah di sebuah restoran padang kecil yang belum buka di mulut belokan ke arah rempoa. Lalu saya ingat bahwa ban serep saya juga kempes (inilah akibatnya kalau terlalu cuek ya) lalu hal selanjutnya adalah mata saya ke sana kemari mencari tukang tambal ban di dekat situ.
Alhamdulillah! 50 meter saja saya menemukannya. Saya kunci mobil (kijang kapsul, btw), lalu berjalan menuju tambal ban dan mengajak tukangnya ke mobil saya untuk mengambil ban yang kempes. Perjalanan saya memanggil tukang tambal mungkin hanya 3 menit. Lalu sesampainya di mobil, saya sadar bahwa lubang kunci di pintu penumpang terlihat aneh, bentuknya sudah miring dan coak, saya langsung sadar bahwa mobil saya dicongkel orang, hal pertama yang saya ingat, saxophone!!! saya langsung buka pintunya, dan melihat saxophone saya masih duduk manis di kursi depan, lalu saya berpikir lagi, lah, terus dia ngambil apa ya? oh, rupanya yang diambil adalah tas berisi kumpulan lirik lagu dan notasi musik saya. Dalam hati saya tertawa, tapi kurang tahu maksud tawaan itu, antara bersyukur tidak ada yang berharga yang hilang, atau ketawa kecut karena kecolongan.
![]()
Itulah pengalaman manis akhir tahun, kecolongan tas. Tapi untuk saya, ada pelajaran yang dahsyat dari pengalaman itu. Yang hilang memang tas berisi seonggok kertas, tetapi, bisa saja yang diambil adalah saxophone saya, atau mobil saya, atau bahkan, nyawa saya! seseorang yang berani mencuri di tengah masyarakat pembakar pencuri pasti sudah penuh persiapan, paling tidak dia bawa senjata untuk bela diri kalau-kalau ketahuan.
Di situlah saya berpikir, bahwa apa yang kita pikir adalah milik kita, bisa saja hilang begitu saja, ya, begitu saja. Tahun 2001 saya kehilangan mobil dicolong orang di depan rumah ibu saya, suatu pagi yang cerah saat menikmati kopi hangat, tukang kebun rumah bertanya, “tumben nggak bawa mobil mas,” katanya, ya anda bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.
Milik kita? uang banyak, bisa hilang begitu saja, baru minggu lalu istri saya tidak sengaja nyenggol bemper orang sampe lencet, hilanglah 500 ribu rupiah. itu masih kecil dibanding yang ini
NEW YORK Reuters – A French executive who invested with accused swindler Bernard Madoff was found dead in an apparent suicide on Tuesday, reportedly distraught over losing up to $1.4 billion in client money.
Tidak hanya uangnya hilang, pikiran jernih juga ikut hilang dia silet urat nadi hingga nyawa juga ikut hilang. Pekerjaan kita? bisa juga hilang begitu saja.
Detik.com – Buntut kesulitan bahan baku kayu lapis dan kenaikan harga minyak, PT Jati Dharma Indah (JDI) Waisarissa melakukan PHK terhadap 2.800 karyawannya.
Orang yang kita cintai, juga bisa diambil Tuhan dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin masih ingat berita tentang seorang pengacara muda yang meninggal tertimpa serpihan bangunan tempatnya bekerja, begitu saja, tanpa peringatan apa-apa ia meninggalkan istri yang baru dinikahinya.
Kompas – Tragis. Asisten pengacara dari firma hukum Luhut Pangaribuan, Ramses Pasaribu yang meninggal setelah tertimpa tembok di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (24/7), seharusnya bulan ini dilantik menjadi pengacara independen.
Akal sehat milik kita? tidak juga, seseorang bisa kehilangan akalnya.
Suara Karya – Kondisi para petani kelapa sawit di Riau benar-benar memprihatinkan. Sejak harga buah sawit anjlok tajam, sebagian besar dari mereka jatuh miskin. Kondisi ini membuat beberapa petani mendadak gila, bahkan ada yang berusaha bunuh diri.
yang kita pikir adalah milik kita, sungguh-sungguh bisa hilang dan diambil begitu saja tanpa kita punya kekuatan untuk menghentikannya.
Saya rasa ini adalah hal yang penting untuk diingat, karena hal inilah yang memotivasi kita untuk bersyukur, untuk menghargai apa yang kita punya saat ini sekarang, karena setiap saat, apa yang kita punya bisa saja hilang begitu saja, tanpa peringatan.
Semoga di tahun baru ini kita menjadi semakin bijaksana, amin.


Setuju bgt bro! Kita emang hrs lebih bersyukur ama yg kita punya sekarang. Thanks for for reminding
Gw tunggu artikel2 selanjutnya
very nice writing! keep it up ziz
i feel you, bro. these kinds of things happened to me a lot of times too. which reminds me that Allah still loves me.
Azis,… gue ngakak abis pas baca “tumben gak bawa mobil mas?” (satir ya… but I can’t help it). Have a good new year.. and itung itung buang sial ya?. . I looking forward to see your performance (without the papers of lyrics..) Cheers!
hehe thanks Adrian
bagus tulisannya, ndra…
Thank u Nasta
Terkait dengan soal rasa syukur, saya sangat terkesan dengan apa yang pernah dikatakan Bob Sadino. Saya tidak ingat kalimatnya ad verbatim, tapi apa yang saya tangkap dari kata-katanya kira-kira sebagai berikut:
“Kita semua sesunggunnya sudah kaya raya terlepas dari apakah kita punya harta benda atau tidak. Contohnya saja lihat anggota tubuh anda, apakah anda mau menukarkannya dengan uang bermilyar-milyar atau berapapun itu? Tentu tidak, artinya kalau kita mau fikirkan, sesungguhnya setiap diri kita adalah orang-orang kaya karena tubuh kita saja tidak bisa dinilai dengan uang berapapun.”
Saya yakin tentu tidak ada orang berakal sehat yang mau menukarkan bagian tubuhnya dengan sejumlah uang. Mungkin juga apa yang dikatakan Oom Bob di atas terdengar klise dan terlalu sederhana untuk sebagian orang. Tapi untuk saya, dia berhasil mengingatkan kembali betapa kita harus mensyukuri hal-hal yang mungkin sering kita “take for granted”. Tubuh yang lengkap dan sehat, indera yang berfungsi baik, oksigen yang kita hirup tanpa harus membayar, dan sepiring nasi di meja kita, adalah beberapa anugerah (to name but a few) yang perlu disyukuri dan alangkah baiknya apabila tidak dianggap sekedar “keniscayaan” dan “rutinitas” belaka. Karena untuk sebagian mereka yang kurang beruntung, hal-hal tersebut masih menjadi “kemewahan” atau bahkan “kemustahilan”.