Giacomo Puccini

Giacomo Puccini
Indra Aziz

Puccini Portrait

Puccini Portrait

Giacomo Puccini dilahirkan di Lucca, Italia pada tahun 1858. beliau adalah generasi ke-5 dari keluarga besar composer, yang kebanyakan adalah composer gereja di Cathedral San Martino di Lucca. Ketika berumur 6 tahun, Ia sudah menempati posisi master choir dan organist di San Martino. Semua orang menyangka bahwa Puccini akan mengikuti jejak para pendahulunya sebagai musisi gereja. Namun pada suatu malam tahun 1876, Puccini melihat produksi Aida dari Verdi di kota Pissa. Semenjak saat itu, Puccini memutuskan bahwa jiwanya berada di opera, dan hanya opera.

Pada tahun 1880, Puccini menyelesaikan pendidikan di Pacini Institute di Lucca, pada saat itu Ia baru menyelesaikan karya Mass-nya yang pertama yaitu Messa di Gloria, yang membuat keluarganya mendukung pendidikan musiknya dan Ia mendapat beasiswa dari Ratu Margherita. Selama 3 tahun Ia mengemban pendidikan di Conservatory Milan di bawah pendidikan dari Bazzini dan Ponchielli. Pada masa pendidikan ini Puccini mulai menulis opera pertamanya La Boheme.

Namun karya yang pertama Ia tulis adalah untuk sebuah kompetisi opera 1 babak yang berjudul Le Villi. Walau pada saat itu Le Villi tidak memenangkan kompetisi, namun Puccini diundang untuk bermain musik di sebuah pesta yang dihadiri banyak tamu penting yang akhirnya mengizinkan Le Villi untuk dipentaskan di Teatro Del Verme pada tahun 1883, dan semenjak keberhasilan tersebut, Puccini mulai aktif sebagai penulis opera.

My Favorite Puccini Opera:

Turandot
Composer: Giacomo Puccini (completed by Franco Alfano)
Librettists: Giuseppe Adami & Renato Simoni
First performance: La Scala, Milan, 25 April 1926
Turandot adalah karya Giacomo Puccini yang pada awalnya kurang diterima di masyarakat pecinta seni opera oleh karena mengandung kekerasan dan kesadisan. Namun jika kita melihat cerita Turandot dengan seksama, kita tahu bahwa inti cerita itu bukanlah kekerasan.

Bercerita tentang seorang putri di Peking bernama Turandot yang menyatakan bahwa siapapun yang ingin menikahinya harus bisa menjawab 3 pertanyaan teka-teki, dan jika gagal, Ia harus mati. Orang terakhir yang mencoba adalah seorang pangeran dari Persia yang akhirnya dieksekusi dengan berdarah dingin dibawah perintah Turandot. Turandot bercerita bahwa semenjak putrid nenek moyangnya Lou Ling dibunuh oleh seorang pangeran, Ia ingin membalaskan dendamnya kepada semua laki-laki dan tidak akan ada yang bisa memilikinya. Hingga suatu saat seorang pangeran Callaf maju untuk menjawab ketiga teka-teki itu dan berhasil. Turandot merasa putus asa, Ia memohon kepada ayahnya untuk tidak menyerahkan dirinya kepada orang asing seperti Callaf. Namun hal itu tidak bisa dilakukan. Namun Callaf bersedia untuk melepaskan jika Turandot bisa menjawab teka-teki Callaf, yaitu untuk mencari tahu namanya hingga matahari terbenam.

Cuplikan dialog teka-teki antara Turandot dengan Calaf: She poses her first question: what is born each night and dies each dawn? “Hope,” Calàf answers correctly. Unnerved, Turandot continues: what flickers red and warm like a flame, yet is not fire? “Blood,” replies Calàf after a moment’s pause. Shaken, Turandot delivers her third riddle: what is like ice but burns? A tense silence prevails until Calàf triumphantly cries “Turandot!”

Music Instruments
Puccini menulis 2 opera dengan tema oriental yaitu Madame Butterfly dan Turandot, dan keduanya memakai Tam-tam/Gong untuk menambahkan warna aksotik oriental kepada orchestra.

This entry was posted in Tulisan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

One Comment

  1. Posted January 21, 2011 at 3:13 am | Permalink

    Oug a okc k porn tube videos, xxx tube. Rna y, xbr xrrpsj|jig vnouffq m ss ka.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Website Vokal Plus

  • Tweets

  • Advertisement

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.